Oleh Firdaus Yusuf
Berbekal
“Insinyur masuk Desa”-nya, Farida mengumpulkan bukti serta mencatat
pelanggaran-pelanggaran hak asasi manusia di Desa Cot Keng. Temuannya
mengegerkan khalayak ramai. Satu per satu kasus pelanggaran HAM lainnya yang
sebelumnya tertutupi “tumpah” seperti hujan.
PEREMPUAN
itu mengenakan daster hitam dan jilbab hitam. Dia adalah Farida Hariyani, 48
tahun, seorang aktivis perempuan dan hak asasi manusia yang saya temui pada
Minggu, 7 Juni 2014 lalu. Kami bicara panjang lebar di ruang tamu rumahnya di
Kompleks Perumnas Rawa, Kecamatan Pidie, Pidie.
“Saya
melihat kekerasan terhadap masyarakat yang dilakukan oleh negara. Manusia kan
punya hak hidup. Tiap pulang kampung, selalu ada bunyi senjata menyalak.
Orang-orang pagi-pagi berbisik-bisik: semalam ada dipukul orang? Ada di tembak
orang?” kata dia, mengenang kejadian-kejadian di kampung halamannya pada
awal-awal 1990-an, “saya tergugah. Rasa-rasanya ayam mati saja tidak
begitu. Tiap hari ada saja kejadian. Jangankan mau bantu, bicara saja harus
bisik-bisik, ada orang lewat saja mereka (masyarakat) ketakutan.
Kadang-kadang saya dimarah Ayah karena saya suka tanya-tanya di desa mana
ditembak orang?”
Farida lahir
di Ulee Glee, Kecamatan Bandar Dua, Pidie Jaya pada 15 Januari 1966.
Sebelum
pemekaran pada tahun 2007, Pidie Jaya merupakan bagian dari Kabupaten Pidie.
Kelas satu
hingga kelas lima SD, dia lalui di SD di Meureudu. Dan kelas enam dia lanjutkan
di Ulee Glee. SMP juga dia tamatkan di SMP Ulee Glee. Dia kemudian melanjutkan
sekolahnya di SMA Mugayatsyah Banda Aceh. Dia lulus SMA pada tahun 1985.
Pada tahun
yang sama, Farida meneruskan studinya di Universitas Iskandar Muda Banda Aceh.
Sejak saat itu dia tercatat sebagai mahasiswa di Fakultas Pertanian jurusan Budidaya
Pertanahan di universitas tersebut. Lalu, menjelang kelulusannya, pada awal
1990, Farida sering pulang ke kampung halamannya di Pulo Ulee Glee karena harus
mengerjakan praktik lapangan. Dia juga sedang menyusun skripsi saat itu. Dan
ketika itulah dia melihat segala bentuk kesewenang-wenangan Tentara Nasional
Indonesia (TNI) terhadap masyarakat.
Farida
menceritakan pada saat itu desa-desa di beri kode: putih, merah, dan hitam.
“Putih artinya tidak ada GPK, merah banyak GPK, sedangkan hitam adalah desa
yang harus diawasi terus. Desa tempat saya tinggal kebetulan putih,” kata
dia.
GPK adalah
sebutan yang diberikan kepada Gerakan Aceh Merdeka (GAM) oleh TNI.
Kepanjangannya adalah Gerakan Pengacau Keamanan. Pada mulanya Pemerintah
Indonesia sengaja memberi lebel buruk itu pada GAM. Tapi hal itu gagal. GAM
tetap populer di tengah-tengah masyarakat.
Dia
membenarkan letak jilbabnya, lalu meraih toples di depannya. Sesaat kemudian,
tangan kanannya dipenuhi kue kering yang dia makan seraya menuturkan hal yang
melatarbelanginya menyuarakan HAM dan mendampingi korban pemerkosaan serta
tindak kekerasan. Tubuhnya sekarang sedikit melebar. Berbeda dengan foto yang
saya lihat di dinding rumahnya. Dia kelihatan ramping dalam foto
tersebut.
SUATU MALAM PADA TAHUN 1992, salah satu keponakan laki-lakinya
yang tinggal di Medan, Sumatera Utara, pulang ke kampung. Berkali-kali Farida
mengingatkan keponakannya itu untuk tidak keluar rumah.
“Kamu baru
pulang, tidak boleh keluar sembarangan dulu.”
“Suntuk di
rumah. Memangnya kalau tidak salah dipukul apa?”
Farida tak
mampu menahan niat keponakan laki-lakinya itu untuk pergi ke pos jaga. Sekitar
pukul 20.00 WIB, melintas tiga tentara di depan pos jaga. Seperti biasa, saat
itu, setiap ada tentara yang lewat depan pos jaga, masyarakat harus menyapa
atau menegur tentara-tentara tersebut. Namun malam itu, keponakan Farida dan
sejumlah pemuda desa lainnya sedang asyik sendiri di dalam pos jaga.
“Entah main
catur dia di dalam. Ada tiga tentara lewat. Mereka tidak tegur karena di
dalam. Eh, rupanya tentara-tentara itu lewat saja, lalu mereka panggil
kawan-kawannya yang lain. Disuruh masuk parit ukuran tiga meter di atas jalan.
Dia besar badannya. Sudah masuk, tidak bisa keluar lagi. Lalu ditarik
ramai-ramai. Bahunya lecet-lecet dan berdarah."
Dia baru
tahu keponakannya dihajar dan dikerjai tentara tatkala dia mendengar suara air
di kamar mandi tengah-tengah malam. “Cek, betul seperti Cek bilang,” ujar
Farida, menirukan ucapakan keponakannya saat itu. “Dia pulang lebam-lebam.
Basah. Dimandikan dengan air comberan.”
Cek adalah
panggilan untuk adik ibu atau adik ayah dalam bahasa Aceh.
Lalu, kata
dia, ada perintah dari Keuchik (kepala desa) untuk mendata kekayaan penduduk
kampung. TV, sepeda motor, bahkan sepada juga didata.
“Pak Keuchik
untuk apa?”
“Disuruh
tentara!”
“Iya, tapi
untuk apa?”
“Saya tidak
tahu.”
Rupanya,
ujar Farida, tentara menggunakan harta-benda milik masyarakat tersebut untuk
bersenang-senang.
“Kamu kira
pintar kali mereka. Goblok semua itu! Naik sepeda motor saja tidak bisa.
Sambilan operasi mereka belajar bawa motor,” katanya, setengah mengejek. “Bawa
cewek dengan sepeda motor kita. Saya ngintip ke mana motor saya dibawa. Disuruh
isi oli, minyak penuh. TV di rumah saya juga diambil. Kita kan bertanya pada
diri sendiri: ada apa ini? Ditindas luar biasa. Tentara pinjam selama 10 hari.
Kadang-kadang ada yang dibawa pulang sebulan, tak boleh tanya-tanya. Ada yang
hilang juga.”
Sandal
adiknya rupanya hilang saat sepeda motornya dipinjam tentara. Dengan nada
bicara yang sedikit kesal dia berkata, “Dalam hati saya, saya sangat yakin
pasti tentara-tentara tengik itu yang ambil karena di kampung tak ada
hilang-hilang barang.”
Farida
semakin yakin saat dia ke meunasah
(surau). Di sana dia melihat si tentara yang memakai sandal adiknya. Lalu dia
memutuskan pergi ke pos tentara untuk melaporkan hal tersebut kepada komandan
si tentara yang mencuri sandal itu.
“Saya naik
sepada ke sana. Sepeda motor kan diambil, belum dikembalikan. Keluarga tidak
saya bilang,” tutur Faridah.
Di depan
pos, dia melihat beberapa tentara tengah berseloroh antara satu sama lain.
Perempuan
berkulit kuning langsat itu juga mengungkapkan satu hal yang sering dia
ulang-ulang: tentara senang pada penduduk yang bisa bahasa Indonesia. Dan Farida
adalah salah satu dari mereka yang bisa berbahasa nasional Republik Indonesia
itu.
Di Aceh,
pada saat konflik, tak bisa berbahasa Indonesia adalah sebuah petaka!
“Ada apa,
Dik?” tanya seorang tentara, setengah merayu.
“Saya mau
jumpa komandan.”
“Untuk apa?
Sama kami saja.”
“Nggak! Saya
ada perlu sama komandan, bisa panggil sebentar,” ujar Farida, ketus.
Lalu Farida
pun berjumpa komandan tentara.
“Pak, sepeda
motor saya berapa hari lagi? Saya kan mau pakai. Saya ini juga mau mengabdi
pada negara. Pada kampung saya. Saya ini orang pertanian. Saya mau kasih
penyuluhan,” kata Farida pada komandan tentara di hadapannya.
Si komandan
membuka catatan. Saat dia mengecek jadwal pengembalian sepeda motor Farida,
Farida menimpali, “Yang anehnya lagi, Pak, sambilan ambil motor saya, nyuri
sandal juga.”
“Ah, nggak
mungkin,” komandan tentara yang sempat kaget mendengar kata-kata Farida,
menanggapi.
Kebetulan
ada sandal adiknya di atas anak tangga. Farida mengambil sandal tersebut dan
menyodorkannya ke wajah si komandan tersebut. Si komandan terperanjat dan
memanggil anak buahnya yang memakai sandal itu. Dia menampar si tentara yang
mencuri sandal adik Farida.
“Bapak tak
usah tampar-tampar dia di depan saya. Bapak ajar aja anak buah bapak, jangan
ada lagi kejadian seperti ini.”
Kira-kira
dua bulan setelah kejadian itu, datang lagi kabar yang membuatnya marah.
Seorang penjaga kebun kelapa milik keluarganya menjumpai ibunya dan berkata,
“Mi Wa, pohon kelapa di kebun dipotong tentara.”
Mendengar
kabar tersebut Farida berang. “Mereka (tentara) tidak bilang apa-apa. Abang
saya baru pulang dari Jakarta. Kata dia, ‘Jangan pergi ke pos tentara, nanti
diperkosa.’ Saya jawab: ‘Saya kemarin duduk di tempat terima tamu.’”
Farida
ternyata ingin melabrak komandan tentara. Kali ini bukan komandan tentara di
desa tapi di kecamatan. Karena, menurut si penjaga kebun, pohon-pohon kelapa
yang ditebang untuk program ABRI masuk desa. Sebelum pemisahan antara TNI dan
Polri pada 1999, keduanya tergabung dalam Angkatan Bersenjata Republik Indonesia
(ABRI).
Farida
menghadap komandan dan berujar dengan nada yang tinggi, “Saya punya kebun
kelapa dan sekarang di kebun itu sudah bisa main bola. Kami sebenarnya
mengizinkan dipotong untuk kepentingan umum asalkan minta izin.”
“Oh,” kata
komandan tentara tersebut, setelah mengingat-ingat ihwal tersebut, “warga di
situ bilang itu punya orang kaya. Kata mereka boleh.”
“Kalau orang
miskin mana ada kebun kelapa. Batang kelapa tidak tumbuh sendiri, Pak, yang
tanam manusia."
“Jadi
bagaimana?”
“Ya,
bayarlah.”
“Ayah saya
tentara juga. Lebih gagah dari Bapak,” kata Farida, menceritakan kembali
kejadian tersebut dengan tertawa lepas.
Ayah Farida,
Muhammad Daud Bugis, sebelumnya adalah Tentara Darul Islam di bawah pimpinan
Teungku Daud Beureueh. Setelah Teungku Daud Beureueh turun gunung,
tentara-tentara DI/TII diterima sebagai TNI. Muhammad Daud Bugis juga pernah
menjabat sebagai camat.
Setelah
mendapat uang ganti rugi, Farida pun pulang. Tanpa dinyana, desa tempat
tinggalnya gempar karena Farida pergi ke pos tentara. Ibunya, Fatimah,
memarahinya. Ayahnya barang tentu lebih marah lagi. Tapi beberapa kali Farida
meyakinkan keluarganya bahwa dia hanya menuntut ganti rugi atas pohon-pohon
kelapa yang ditebang oleh TNI.
“Ah katanya,
Bapak tentara, pemberani,” kata Farida pada Ayahnya, “anak tentara kan harus
berani juga.”
“Tidak ada
berani-berani! Duduk di rumah!” hardik ayahnya.
FARIDA pulang-pergi: Banda Aceh-Ulee Glee
untuk merampungkan skripsinya. Ia menceritakan tentang sebuah tragedi di Desa
Cot Keng pada dosen pembimbingnya, Ir Abdul Gani Nurdin di Banda Aceh.
“Pak…, ini
parah sekali di kampung.”
“Kenapa?”
Suara Farida
tertahan. Hatinya terenyuh ketika ingin mengungkapkan tragedi di desa
tersebut.
“Di
kampung kami ada bukit janda tapi jauh.”
Cot Keng, sebuah desa yang terletak di kaki bukit di kawasan Ulee Glee, Kecamatan Bandar Dua, Pidie Jaya, sekitar 175 km timur Banda Aceh
atau bisa dicapai sekitar tiga jam berkendara dari Ibu Kota Provinsi Aceh itu.
Nama desa tersebut, menurut yang dikatakan Farida, berasal dari kata Cot, yang
berarti puncak; dan kereng: kering.
Penduduk di
Cot Keng, pada awal 1990-an, kata Farida, berjumlah sekitar 168 jiwa, dengan jumlah
pria hanya sekitar sebanyak 21 orang.
Minggu, 29 Juni 2014, saya menyambangi
desa yang dijuluki “Kampung Janda” itu. Spanduk Calon Presiden Prabowo-Hatta
terpampang di sejumlah pagar kebun milik warga. Jalan di sejumlah desa di
kawasan Ulee Glee kebanyakan telah teraspal. Tapi jalan selebar lima manusia
menuju ke Cot Keng masih berkerikil dan berbatu. “Masih dalam proses. Akan
diaspal,” kata seorang warga yang saya temui di pos jaga. Stiker bergambar Prabowo-Hatta dengan kopiah hitam dan gambar Burung Garuda
merah ditempel di pos jaga itu.
| Pos Jaga di Desa Cot Keng. Foto dipotret Minggu (29/6/2014). |
Lalu, saya
melangkah ke kios di dekat pos jaga. Saya membuka obrolan dengan sejumlah pria
di tempat tersebut, sekaligus mengutarakan niat kedatangan saya. Tiba-tiba,
seorang pemuda yang membeli sesuatu di kios itu, menyambar obrolan saya dengan
sejumlah pria di tempat itu.
“Itu,” kata
dia, seraya menunjuk spanduk Prabowo-Hatta di pagar kebun, “pembunuh orang
Aceh.”
Si pemuda
itu lalu menghidupkan mesin sepeda motornya dan pergi berlalu.
Tak sulit
menggambarkan Cot Keng. Ia tak jauh berbeda dengan desa-desa lainnya di Kabupaten Pidie dan Pidie Jaya, Aceh.
Pohon pinang, kelapa, kedondong, cokelat, dan pohon pisang—sekurang-kurangnya, antara satu dari
jenis pohon tersebut—ada di setiap rumah warga. Sawah diapit oleh bukit-bukit
yang berkelok-kelok. Permukaan tanahnya landai.
![]() |
| Persawahan di Cot Keng. |
Saya menemui
Juwairiyah Ismail, 65 tahun. Dia berperawakan kecil dan berkulit gelap. Nada
bicaranya begitu nyaring dan meledak-ledak. Dia adalah salah satu korban
konflik yang dibawa Farida ke Jakarta. Satunya lagi, Siti Aminah tak bersedia
diwawancarai.
Dari
Juwairiyah saya mendapatkan keterangan yang sama dengan apa yang diutarakan
Farida—meskipun untuk detailnya saya dapatkan dari Juwairiyah dan sejumlah
warga lainnya—ihwal pembunuhan sejumlah lelaki di desa tersebut.
Ibu empat
orang anak itu berbicara dalam bahasa Aceh sepanjang wawancara.
Pada 29
puasa, Senin, tahun 1990, kata Juwairiyah, masyarakat di Cot Keng mengumpulkan uang
untuk menyiapkan bubur di meunasah (surau). “Di sini (Cot Keng) jika satu
hingga 29 puasa, itu, masak kanji (ie bu).
Tapi kalau tutup puasa (29 puasa), kami buat bubur,” kata dia, mengenang
peristiwa 24 tahun silam.
| Juwairiyah Ismail, 65 tahun. |
Tapi, tutur
Juwairiyah, saat tentara menggeledah orang-orang di pos jaga, tepat pada Hari
Raya Idul Fitri, malapetaka itu datang.
Saat mempreteli sekertaris desa, Munir, tentara-tentara itu menemukan
secarik kertas bertuliskan “sumbangan”. Munir adalah suami Siti Aminah. Korban
yang pernah dibawa Farida ke Jakarta dan menolak diwawancarai.
“Ada
nama-nama penyumbang untuk membuat bubur. Kan kami kumpul uang. Tapi dikira
tentara itu sumbangan untuk GPK,” ungkapnya. “Semua dicari. Enam orang
dihabisi. Munir ditangkap hari itu juga. Jasadnya lebih dari seminggu baru
ditemukan. Sedangkan Pak Keuchik (Kepala Desa) ditembak di Keude Ulee Glee.
Jasadnya ditemukan di Blacan, Meureudu.”
Sejumlah
lelaki lainnya memilih lari meninggalkan kampung dengan hanya berbekal baju
yang ada di badan. Istri mereka menganggap mereka telah meninggal. Diculik dan
dibunuh!
Suami
Juwairiyah, Yusuf bin Muhammad Ali ditembak saat sedang bekerja di sawah.
Setelah
Keuchik Hanafiah alias Abu Cut meninggal, TNI menunjuk Muhammad Sufi Husein
sebagai penggantinya.
“Saya tak
punya pilihan. Kalau tidak mau, akibatnya tak sanggup saya bayangkan,” kata
pria kelahiran 1947, itu.
Dia
mengenang saat-saat sulit menjadi kepala desa di Cot Keng dari tahun 1990
hingga 1998. “Orang dipukul sampai pingsan, disuruh kasih air. Ketika terjaga,
dipukul lagi,” kata dia.
![]() |
| Muhammad Sufi Husein |
Saat TNI
masih mencari-cari sejumlah nama pada secarik kertas yang mereka duga nama-nama
para penyumbang bagi GPK, selama tiga hari tiga malam dia tidur di atas pohon
mangga di depan rumahnya.
“Tiap
disuruh ambil mayat, mayat-mayat itu harus dibawa pulang dengan gerobak sorong,”
ujarnya. “Saat itu tak seramai sekarang. Hanya ada 30 Kepala Keluarga (KK).”
KATA FARIDA, sejak dia menceritakan peristiwa
di Cot Keng, Abdul Gani Nurdin tidak lagi banyak membahas tentang skripsi. Politik
dan pelanggaran HAM lebih dominan.
Bekerjalah
akhirnya Farida di Yayasan Masyarakat Desa (Yadesa) yang diketui oleh Abdul
Gani Nurdin. Tugasnya mulanya adalah mencatat kasus pelanggaran HAM,
pemerkosaan, dan tindak kekerasan di Cot Keng. “Penyuluh juga. Saat itu saya
honor di Dinas Kehutanan di Pidie. Mereka (masyarakat di Cot Keng) buta huruf,
saya ajarin mereka membaca. Kadang sepeda motor jatuh rantai. Pakai lampu
minyak itu masih. Sampai akhirnya desa tersebut bisa masuk air bersih. Saya
juga fokus pada pengembangan ekonomi. Suami meninggal, anak ada. Hidup mereka
masih sangat bergantung pada suami. Ya, kita bina mereka. Kalau bilang HAM pada
tentara mana boleh masuk ke kampung itu. Ya…, harus penyuluhan.”
Setelah
reformasi Farida dan Abdul Gani Nurdin berniat membongkar kejahatan negara
terhadap masyarakat di Cot Keng atau yang kemudian dan hingga hari ini dikenal dengan Kampung Janda.
“Farida,
kita tunjukkan ke seluruh negeri, bawa korban ke negera, biar negara tahu ada
kekerasan yang negara lakukan,” kata Farida, menirukan ucapan Abdul Gani Nurdin
padanya saat itu. “Kami tidur di rumah Munir di Bekasi. 1998, ketika kami ke
Jakarta masih ada asap bekas pembakaran. Demo tuntut Soeharto mundur. Kami
pergi ke Komnas HAM, tapi data yang kami bawa ditolak. Alasannya data itu dari
tahun 1990, sedangkan Komnas HAM baru berdiri tahun 1993. Rupanya marah
mahasiswa Aceh di Jakarta. Ditendang kursi, setelah diobrak-abrik itu kantor,
baru yang kami ajukan diterima. Orang yang saya bawa (Siti Aminah) sehari dua
kali pingsan. Dia trauma. Data sudah masuk DPR, Mabes ABRI, dan Komnas HAM.
Di situlah mereka mengatakan kami akan pikirkan Aceh. Ketika pulang, Munir
minta surat pada Mabes ABRI agar kami dilindungi. Saat itu HP tidak ada. 15
hari kemudian, turun DPR RI ke Aceh, mulanya ke DPR di Banda Aceh. Saya
diundang saat itu.”
Munir Said
Thalib adalah aktivis dan pejuang HAM Indonesia.
Ia meninggal karena karena diracun arsenik dalam penerbangan
menuju Belanda untuk melanjutkan studi masternya di bidang hukum.
Malam kedua
mereka di Jakarta, Ghazali Abbas Adan yang saat itu anggota DPR RI asal Aceh
menjemput Farida, Abdul Gani Nurdin, dan kedua korban: Juwairiyah Ismail dan Siti Aminah di rumah Munir. Kemudian
dia membawa mereka ke Rumah dinas DPR RI tempat tinggalnya saat itu— di
Kalibalita.
“Saya
fasilitasi mereka. Fraksi PPP mendesak DPR RI. Lalu terbentuklah Tim
Pencari Fakta (TPF). Papua satu tim dan untuk Aceh satu tim,” kata Ghazali
Abbas Adan, Selasa, 17 Juni 2014. “Dalam kunjungan ke Aceh saat itu saya juga
bertindak sebagai penerjemah dari bahasa Aceh ke bahasa Indonesia dan juga
sebaliknya. Saya berterima kasih kepada Farida. Kejahatan-kejahatan kemanusian
yang sebelumnya belum pernah saya dengar, terkuak. Sebagai dewan yang mewakili
Aceh saya sambut mereka. Kami ingin seluruh Indonesia tahu ada pelanggaran HAM
berat di Aceh.”
Pada Pemilu
Legislatif 2014 lalu, Ghazali Abbas Adan terpilih sebagai anggota DPD asal
Aceh.
“MAKASI PAK, YA, SUDAH KE SINI. Bapak ke lapanganlah, Pak,” kata
Farida pada Hari Sabarno.
“Apalagi
perempuan ini, banyak kali tuntutan! Ini kan sudah di lapangan.” Tutur Hari
Sabarno dengan gaya militernya.
“Bapak kan
punya anak di sini. Kan bapak titip anak di sini.” Farida merendahkan suaranya
dan bicara dengan nada sedikit merengek.
Hari Sabarno
merupakan purnawirawan TNI. Tim TPF
yang dibentuk oleh DPR RI, diketuai olehnya, yang saat itu Ketua Fraksi ABRI. Jabatan Politik
tertinggi Sabarno: Menteri Dalam Negeri pada masa Kabinet
Gotong Royong. Kini, dia
mendekam di balik jeruji setelah dinyatakan terbukti
terlibat kasus korupsi pengadaan mobil pemadam kebakaran.
“Jadi
kenapa?”
“Ya, Bapak
lihat kelakuan mereka di sini. Di sini (Banda Aceh), sama juga seperti di
Jakarta.”
“Jadi
bagaimana maksudmu?”
“Bapak turun
ke Pidie, ke daerah-daerah di mana anak buah bapak banyak-banyak.”
“Okelah.”
Kata dia, membentak.
Tapi, kata
Farida tim TPF tidak bilang kapan turun ke daerah.
Dua hari
kemudian Farida mendapat informasi dari Ghazali Abas. “Dik, besok mereka
turun.”
“Jadi apa
yang harus saya lakukan, Bang?”
“Kumpulkan
korban.”
Lalu Farida
hanya memberitahu pada beberapa orang bahwa akan ada kedatangan anggota DPR RI.
Rupanya berita tersebut menyebar dari ke mulut-mulut dengan cepat.
Hari itu,
kantor DPRK Pidie dipenuhi orang. Truk dan mobil bak terbuka berjajar di ruas
jalan. Sigli seperti sepotong kue kering manis yang digerogoti semut.
“Saya
sendiri tak tahu berapa jumlah janda di Pidie. Kalau yang di Cot Keng, sudah
disiapkan mobil pick up. Yang turun itu dari Geumpang, Tiro, dan
daerah-daerah lain. Tak terbayangkan itu. Sigli hitam. Jalan macet. Orang-orang
membludak di kantor DPRK Pidie. Saya punya kawan wartawan, Nona namanya, saya
pun jadi berani karena ada dia. Ada yang lebih berani lagi. Noni namanya, dosen
di Universitas Jabal Ghafur, yang menikah dengan GAM dan berada di luar negeri.
Dia drum-drum dia tendang. Saya tidak mau berantam dengan serdadu. Mereka orang
diperintah, saya cari bos-bos!”
Rupanya
tidak semua korban dibolehkan masuk. “Hanya lima orang. Bang Ghazali Abbas dan
saya ngomong. Pintu utama gedung DPR kan satu dibuka, satu lagi rekatkan.
Saya bilang: Abang masuk ke dalam, nanti lepaskan perekat bawah dan atas
pintu yang tertutup itu. Nanti saya kasih aba-aba.”
Sementara
yang lainnya sudah berbaris, Ghazali Abas juga telah bersiap-siap membuka pintu
yang sebelahnya tertutup itu. Rombongan di depan, kata Farida ada sekitar 20
orang, tumbang ke lantai. Massa menerobos ke dalam. Mereka lalu duduk tertib di
lantai.
“Yang lima
itu cerita. Pahit-pahit kali itu kan ceritanya,” kata Farida.
Mata Hari
Sabarno berkaca-kaca saat mendengarkan cerita korban.
“Di situlah
mereka turun ke kamp-kamp statis. ke Rumoh Geudong dan ke Bukit Janda.
Beribu orang datang. Bertahap-tahap itu. Tidak terjadwal sebelumnya.”
Tim TPF
turun desa-desa di Kabupaten Pidie, Aceh
Utara, dan Aceh Timur. Dari kasus penculikan, pembunuhan, penyiksaan sampai
pemerkosaan yang dilakukan oknum-oknum “aparat” diceritakan secara gamblang oleh masyarakat korban.
Lalu
beberapa bulan kemudian, ujar Faridah, Wiranto yang saat itu menjabat sebagai
Jenderal TNI, mencabut DOM (Daerah Operasi Militer) di Aceh.
Farida
Hariyani mendapat Anugerah HAM Yap Thiam Hien pada tahun 1998. Sekarang dia menjabat sebagai Direktur Pengembangan Aktivitas Sosial
Ekonomi Aceh (PASKA). Di Cot Keng tak ada warga yang tidak mengenalnya.[]


Merinding! Liputan menarik daus. Sudah lama sekali aku tidak baca feature kayak gini. Dulu ada ACEHFEATURE dan majalah PANTAU. Sekarang engkau menulis jurnalisme sastrawi kek gini. Good job. Sebuah tulisan penting bagi aceh. Farida, the next Cut Njak Dhien.
BalasHapusBanyak yang amnesia apabila tidak diingatkan lewat dokumentasi. Thank untuk tanggapannya, Bang.
BalasHapus“Kamu kira pintar kali mereka. Goblok semua itu! Naik sepeda motor saja tidak bisa. Sambilan operasi mereka belajar bawa motor,” katanya.
BalasHapuskata2 ini mengingatkan aku kembali. iya, baru tadi saya teringat dulu ada penjatahan sepeda motor untuk ST. sebutan kepada tentara yang sedang operasi jaring merah. dulu, di kampung kami para kopasus bermarkas di mulut kuala meureudu. pak Husni nama komandannya. orangnya 'baik' karena setiap hari ada saja masyarakat mengantar makanan lezat2 ke sana. ayam bebek sampai timphan. ini memang disuruh pak keuchik. saya masih SD kelas 2 waktu itu. gud job firdaus.
groen...
BalasHapusBereh that, Daus! Nyoe memori ata lagee-lagee nyoe payah tarawat dengan rapi; baik melalui jurnalisme, sastra, seni rupa, maupun film. Pakat-pakat lon meunyo na rencana terjun lom.
BalasHapusOke Putra pakat Ramol lom. Tapi wate woe bek bagah that balek u Banda, Oke.
BalasHapusLoen aneuk yg bersangkutan ir abdul gani nurdin
BalasHapus