Upaya dokumentasi langkah-langkah dalam hidup

Minggu, 01 Juni 2014

Mereka Bertanya: Ada Apa dengan Aceh ?


Oleh Firdaus Yusuf

“Mengapa Aceh tak merdeka dan memilih damai?” tanyanya berulang kali, dengan logat melayu yang kental, “mengapa saat referendum, puluhan ribu orang buat aksi, tapi Aceh gagal merdeka. Selepas tu, mengapa tak ada lagi aksi sebesar tu?”

Senin malam, 7 April 2014 lalu, sembilan warga Patani, Thailand bagian selatan, berusia antara 20 hingga 30-an, duduk melingkari meja di aula rapat kantor Acehnese Civil Society Task Force (ACSTF), di Jalan Merak nomor 46 D, Gampong Neusu Aceh, Banda Aceh. Sedangkan dua lainnya berasal dari Bangkok, ibu kota Thailand. Anak-beranak  itu: Chalida Tajaroensuk dan Tajaroensuk.

Mereka yang berasal dari Patani adalah Asmah, Badareeyah, Marudeen Kahong, Rohanee, Ibroeng Damiro, Tuwaedaniya Tuwaemaengae, Isama-ae Salea, Eharam, dan Arfan Wattana. Mereka berbicara dalam tiga bahasa sekaligus: bahasa nasional Thailand, Melayu, dan Inggris. 

Secretary General (Sec-Gen) ACSTF, Juanda Djamal, berbagi cerita dan pengalamannya selama konflik bersenjata di Aceh; dan ia juga menceritakan pengalamannya dalam kegiatan-kegiatan penguatan masyarakat sipil di Aceh pasca-tsunami dan MoU Helsinki. Pertemuan malam itu sekaligus membincangkan apa yang akan dilakukan tamu-tamu dari Thailand itu selama di Aceh. 

***
Seorang pria yang mengenakan kaus hitam tampak begitu antusias bertanya-tanya tentang politik Aceh. Dia yang membikin ruangan itu tak pernah diam. Pria itu bernama Tuwaedaniya Tuwaemaengae, 34 tahun. Bertubi-tubi pertanyaan terlontar dari mulutnya. Nada bicaranya tak pernah terdengar rendah. Dia yang menjadi penerjemah dari bahasa Melayu (atau Indonesia) ke bahasa Thai. Walaupun kadang-kadang Chalida Tajaroensuk dan Tajaroensuk menimpali dengan bahasa Inggris saat ada satu-dua hal yang menurut mereka masih kurang jelas—bertanya langsung pada Juanda. 


Saya berulangkali mendengar Tuwae menanyakan pertanyaan yang sama.

“Kenapa Aceh tak merdeka dan memilih damai?” tanyanya berulang kali, dengan logat melayu yang kental, “mengapa saat referendum, puluhan ribu orang buat aksi, tapi Aceh gagal merdeka. Selepas tu mengapa tak ada lagi aksi sebesar tu?”

Pertanyaan Chalida Tajaroensuk mengagetkan saya: “Apakah Aceh masih punya keinginan untuk merdeka?”

Juanda menjawab pertanyaan perempuan itu dengan hati-hati. Pria kelahiran 19 Agustus 1977 itu memberikan pemahaman mengapa Aceh harus berdamai dan menerima MoU Helsinki saat itu.

Lalu, Chalida Tajaroensuk, yang juga Direktur People’s Empowerment Foundation (Lembaga Penguatan Masyarakat Sipil) yang terletak di Klongkum, Bangkum, Bangkok, mendiskusikan wilayah pemantauan (9 April 2014 merupakan Pemilu Legislatif). Perempuan yang  menyelesaikan studi Strata I Art in History di Universitas Thammasat dan Strata II Social Development di National Institute For Development and Administration (NIDA), ini, bertanya, “Juanda, why are the women not allowed to go to other places? Why should they stay in Banda Aceh? (Juanda, mengapa perempuan tidak boleh ke tempat lain selain Banda Aceh)?"

Chalida menginginkan tiga perempuan Patani juga ikut ke empat daerah lainnya selain Banda Aceh, yaitu Aceh Besar, Pidie, Pidie Jaya, dan Bener Meriah. Mungkin karena alasan keamaanan Juanda Djamal awalnya berniat menempatkan tiga perempuan tersebut di Banda Aceh. Maklum, penembakan-penembakan sporadis menjelang Pemilu dan juga kekerasa bermotifkan politik kerap terjadi di sejumlah kabupaten di Aceh.
 
Asmah, Badareeyah, dan Rohanee, duduk manis tanpa mengeluarkan sepatah kata pun. Mereka berkerudung dan mengenakan baju kurung. Akhirnya diputuskan: Rohanee dan Badareeyah ke Pidie Jaya, bersama Farida Hariyani— yang pada saat konflik dulu aktif menyuarakan isu-isu HAM dan pemberdayaan perempuan—untuk mengamati Pemilu di Gampong Cot Keng atau yang lebih dikenal dengan Gampong Janda, Kecamatan Bandar Dua, Pidie Jaya.
***
Rabu pagi, 8 April 2014, kantor ACSTF begitu riuh. Koper dan tas berserakan di depan pintu masuk. Dua Toyota Avanza terparkir di halaman kantor. Satu berwarna putih dan satunya lagi berwarna hitam. Saya ditugaskan untuk mendampingi Tuwaedaniya Tuwaemaengae ke Pidie, kampung halaman saya. Kebetulan saya juga ingin menggunakan hak pilih pada Pemilu. 

Avanza putih yang kami tumpangi melaju meninggalkan Banda Aceh. Tujuannya: Pidie, Pidie Jaya, dan Bener Meriah. 

Sedangkan mereka yang akan berada di Aceh Besar menyusul belakangan.

Chalida—begitu orang-orang di sekeliling saya memanggil Chalida Tajaroensuk—menunjuk bukit-bukit di sepanjang jalan Lambaro, Aceh Besar. “Apakah itu, dulu, (bukit) tempat persembunyian GAM?”

Saya, yang sempat terdiam sesaat, lalu menjawab, “Mungkin.”

Jujur, saya sendiri tak tahu tempat-tempat yang dijadikan persembunyian GAM. Dia bertanya lagi. Nyaris sepanjang jalan dia terus bertanya. 

Kulit putih Chalida dibalut baju berbahan katun. Rambutnya pendek. Seperti kebanyakan rambut lelaki di sini. Uban di kepalanya menunjukkan usianya yang tak lagi muda. 

Perempuan kelahiran 28 Februari 1945, itu,  sepertinya tak sedikit pun merasa risih dengan penampilannya tatkala orang-orang menatapnya penuh keheranan. 

Dia duduk di kursi deretan tiga. Sesekali kepalanya melongok untuk bertanya; atau sekedar menjawab pertanyaan saya. 

“Bagaimana dengan komitmen Partai Aceh saat kampanye?” tanyanya, “dan…, apa yang dikampanyekan Partai Nasional Aceh untuk rakyat Aceh?”

Saya menjawab sekenanya: yang mereka janjikan tak jauh berbeda antara satu sama lainya.

Chalida menuturkan kisah perkenalannya dengan Aceh. Jafar Siddiq Hamzah, Ketua International Forum for Aceh (IFA), kata dia, suatu hari menemuinya di Bangkok. “Saya tidak ingat waktu secara rinci. Jafar saat itu meminta saya membantu Aceh,” kata dia. “Saya bantu Jafar membuat pertemuan regional Aceh di Bangkok. Pertemuan tersebut menjadi isu besar. Hotel tempat digelarnya pertemuan dikawal ketat oleh polisi.”

Chalida bersama-sama masyarakat sipil Aceh saat itu mengkampanyekan isu Aceh dan melakukan advokasi pelanggaran-pelanggaran HAM. Juga menerbitkan buku: Aceh Untold Story.

Jafar meninggal dunia secara misterius pada September 2000. Dia yang sebelumnya hilang sejak tanggal 5 Agustus 2000, ditemukan sudah terbujur kaku di desa Bangalingga, Kecamatan Merek, Karo, Sumatera Utara.

***
Mobil yang kami tumpangi melewati jalan menanjak dan berkelok-kelok. Di daerah Beutong, Pidie, kedai-kedai yang terbuat dari dahan bambu dan daun rumbia, menjajakan pisang, madu, dan ie jok. Sedangkan kedai-kedai yang dibangun Pemerintah Pidie kosong melongo tak terpakai.

 “Juanda never changes. He is as same as the first time I met. He is still working in strengthening civil society. His personality and his life style as well. (Juanda masih sama seperti dulu saat saya pertama kali bertemu. Dia masih bekerja di bidang penguatan masyarakat sipil. Kepribadian dan gaya hidupnya juga masih sama),” Chalida menceritakan tentang Juanda Djamal. Dia juga sering menyebut nama Hendra Budian.

Juanda—saya memanggilnya Bang Juanda—beberapa kali menelpon untuk sekedar menanyakan keberadaan kami.  Saya dan Tuwae turun di Sigli, Pidie. Kami nginap di rumah Farida Hariyani. 

“Aduh, mengapa tidak bilang dari tadi?” kata Farida, sesampainya kami di rumahnya, “kalau kamu bilang dari awal, saya bisa beres-beres.”

Farida ke kamar mandi, menghidupkan keran air. Dia menunjukkan letak kamar. “Kalau kalian mau tidur di luar, ini seprai, bantal,” serunya. “Kopi di dalam lemari, ya.”

Dia menuju ke rumah tetangganya—dua blok dari rumahnya yang terletak di kompleks perumahan Perumnas Rawa, Pidie.—untuk mengambil kunci sepeda motor sekaligus memberitahukan kepada tetangganya: kami menginap di rumahnya. 

Farida memeluk Chalida. Matanya berkaca-kaca. Dua perempuan yang sama-sama bekerja di bidang kemanusian, perempuan, dan kegiatan-kegiatan sosial, itu, saling bertatap-tatapan selama beberapa detik sambil menyunggingkan senyum. Dua sahabat itu saling melepas rindu.

Lalu, mobil melaju menuju ke Pidie Jaya dan Bener Meriah.

Tuwae menunjuk ke arah dinding ruang tamu Farida sembari bertanya, “Foto siapa itu?”
Saya menjawab, “Itu Munir. Aktivis HAM. Di sebelahnya Kak Farida sewaktu acara penghargaan Yap Thiam Hien.”

Saya yang mulanya kesulitan mengingat nama Tuwae, berkali-kali menanyakan nama pria bertubuh sedikit tembun tersebut.

“Tuwae itu bahasa Melayu,” kata ayah empat orang anak, itu, mencoba menjelaskan, “Tuan artinya. Keluarga saya, keluarga bangsawan, keluarga kerajaan di sana. Jadi, itu bukti jika kami pernah berdaulat dulu.”

“Kami dipaksa harus ikut kebudayaan Siam,” katanya lagi.

Dia juga mengatakan ini kali ketiga dia ke Aceh. “Kali pertama melalui Sasakawa.Yang kedua, melalui  HDC (Hendri Dunant Centre). Yang ini melalui PEF (People Empowerment Foundation) dan ACSTF.”

Tak lama setelah bercakap-cakap dengan Tuwae, saya menghubungi Muhammad Isa, 36 tahun. Dia kawan diskusi saya. Tempat pertama yang harus dikunjungi Tuwae, menurut saya saat itu, adalah kedai kopi. 

Kedai kopi di sini: tempat di mana orang-orang bebas berpendapat mengenai semua hal tentang Aceh.  

Tuwae menyalami sejumlah orang yang menghampirinya. Tangan kanannya dia letakkan di atas kepala usai berjabat tangan. “Saya Daniya,” kata Tuwae, yang lebih suka memperkenalkan diri dengan nama Daniya. “Saya dari Patani. Bangsa Melayu yang dijajah Siam.”

Muhammad Isa melangkah menuju tempat duduk kami. Dia mengenakan kaus dan jaket jins biru. Tuwae membuka obrolan dengan memperkenalkan dirinya. Beberapa saat kemudian dia berkata pada Muhammad Isa, “Keterlibatan saya dengan perjuangan kedamaian rakyat di Patani mulai secara resmi setelah demontrasi tahun 2007, karena saya tak sanggup melihat penderitaan rakyat Patani akibat perang di antara kerajaan Thailand dengan BRN (Barisan Revolusi Nasional). Bidang perjuangan saya lebih fokus kepada beraksi mempertahankan hak asasi rakyat dan demokrasi di dalam keadaan perang.”

Tuwae menunjukkan link berita yang memuat dirinya dan video-video konflik di Patani melalui youtube.

Kata dia, dirinya dan teman-temannya ingin mempelajari demokrasi dan keadaan Aceh pasca-MoU Helsinki. Dua jam lebih kami bercakap-cakap di salah satu kedai kopi di Sigli. Pada malam hari, saya mengajaknya minum kopi dengan Taufik Almubarak (kebetulan dia di Sigli karena saat itu dia Caleg DPR Aceh Daerah Pemilihan Pidie dan Pidie Jaya). Yang menjadi pokok pembicaraan masih sama: mengapa referendum gagal memerdekakan Aceh dan mengapa Aceh menerima MoU Helsinki?

***
MF. Mukthi, dalam artikelnya yang berjudul Satu Negara Dua Kerajaan (2010), menuliskan, di masa lalu, Patani, Yala, dan  Narrathiwat merupakan wilayah Kesultanan Patani–awalnya kerajaan tertua di Semenanjung Malaya bernama Langkasuna, yang berdiri pada abad ke-2. Ia berulangkali menjadi wilayah vasal kerajaan lain: Sriwijaya, Nakhon Si Thammarat, Sukhothai; hingga kembali menjadi wilayah otonom pada abad ke-15 dan menjadi kerajaan Islam bernama Kesultanan Patani.

Sebagai wilayah otonom, perdagangan, kebudayaan, dan ilmu pengetahuan di Patani berkembang pesat. Hubungan diplomatik terjalin dengan kerajaan-kerajaan Islam lainnya.

Patani mengalami kemunduran ketika Ayudhya atau Ayutthaya, cikal-bakal kerajaan Siam, menginvasinya pada 1688. Sultan Muhammad, yang berkuasa di Patani saat itu, terbunuh dalam pertempuran. Kota Patani dibumihanguskan. Patani sendiri mengalami konflik internal, yang kian memudarkan kejayaan mereka.

Setelah dikuasai oleh kerajaan Siam, tulis MF Mukti, wilayah Patani menjadi daerah yang merupakan wilayah Thai-Budha. Hal itu didasarkan atas perjanjian penentuan daerah antara Kerajaan Thailand pada masa pemerintahan Raja Chulalongkorn dan pemerintahan kolonial Inggris di Malaya, yang mengharuskan wilayah Patani dan sekitarnya menjadi wilayah kekuasaan Thailand pada 1902.

Di bawah pemerintahan Muangthai yang Buddha, sebagai kelompok minoritas, mereka memperoleh perlakukan diskriminatif. Birokrasi negara yang berorientasi Thai-Buddha mengisolasi mereka bukan hanya dalam proses politik tapi juga kultural, agar sesuai dengan kebutuhan integrasi nasional. Upaya itu gagal. Kebijakan lebih keras dijalankan rezim Phibul Songkram pada 1938, yang menekankan asimilasi berbagai budaya minoritas ke budaya monoetnik. Konflik bersenjata terjadi hingga kini di sana.

***
Keesekon harinya, saya membawa Tuwae ke Tempat Pemungutan Suara (TPS) di Gampong Blang Paseh, Kecamatan Kota Sigli, Pidie. Dia berdiri di dekat TPS IV—tempat saya terdaftar sebagai pemilih. Seorang petugas KPPS memandang curiga ke arahnya.

“Apakah ini KTP-nya?” kata si petugas KPPS kepada saya. Dia membawa KTP, mencocok-cocokkan dengan wajah Tuwae. 

“Bukan,” jawab saya seraya menunjukkan kartu Pemantau Pemilu dari Komisi Idependen Pemilihan (KIP) Aceh—milik saya. “Dia dari Thailand. Belajar tentang perdamaian dan demokrasi di Aceh. Sekaligus Pemilu.”

Sejurus kemudian, kami menelusuri lima TPS di sana. Dia sedikit kaget ketika saya katakan “di sini Hasan Tiro pernah sekolah”. 

Madrasah Diniyah Takmiliyah Sakdah Al-Jamiyatuddiniah, di sana tak hanya Hasan Tiro yang pernah mengenyam pendidikan, tapi juga Hasan Saleh dan sejumlah tokoh Aceh lainnya.

Kami pergi ke sejumlah gampong (desa). Magrib itu saya membawa dia ke Masjid Abu Beureueh (Baitul A'la Lil Mujahidin) di Beureunuen, Kecamatan Mutiara. Usai salat, saya menunjukkan makam Teungku Dawood Beureueh, di belakang masjid tersebut.

***
Tuwae menyimpulkan segala sesuatu dari setiap cerita tentang konflik Aceh yang dia dengar selama perjalanan kami dengan cepat. Saya teringat kata-kata Azhari Aiyub, Direktur Komunitas Tikar Pandan. Kata dia: “Butuh waktu memahami Aceh; dan butuh waktu untuk menentukan keberpihakan.”

Tergiang pula dalam ingatan saya sebuah anekdot saat konflik dulu: Orang Aceh, pagi lempar senyum, malam lempar geranat!

10 April 2014. Pagi itu kami mengunjungi rumah milik Teungku Wahab di Gampong Kreung Seumideun, Caleue, Kecamatan Indra Jaya, Pidie. Juanda Djamal berkali-kali menelpon, memastikan saya membawa Tuwae berjumpa dengan Teungku Wahab. Tatkala saya menyambangi rumah adat Aceh tersebut, istri Teungku Wahab mengatakan suaminya itu sudah keluar ke kilang padi. Lalu, kami diantarkan ke kilang padi Teungku Wahab oleh anaknya. 

Kami bercakap-cakap di ruang tamu rumah Teungku Wahab.

Teungku Wahab berperawakan kecil. Nada suaranya rendah tapi tak mengurangi ketegasan dari maksud kata-kata yang keluar dari mulutnya. Sesekali dia memukul meja saat mengisahkan perjalanan panjangnya bersama Gerakan Aceh Merdeka (GAM). Ada kekecewaan di situ. 

“Bulan Mei 1998. 5 Mei, saya ditangkap dan disiksa di Rumoh Geudong. 11 Mei demo besar-besaran di Jakarta; dan 21 Mei Soeharto lengser dari kekuasaannya. Di bulan Mei juga saya di penjara di Pulau Jawa,” ujar Teungku Wahab, menceritakan serangkaian peristiwa yang dia alami di bulan Mei 1998.

Tuwae begitu terkesan dengan Teungku Wahab. Pertanyaannya tak jauh berbeda dengan pertanyaan yang sudah-sudah. Teungku Wahab menghabiskan beberapa batang rokok saat berbicara dengan kami. Saya tak banyak bicara. Saya lebih banyak mendengarkan kisah-kisahnya. “Ino bak gata. Bak gata. Gata nyang peutimang ukeu (Sekarang sama Anda. Anda yang mengurusnya ke depan).” Teungku Wahab menohok saya dengan kata-katanya. 

Ada bagian yang samar, tempat di mana orang Aceh menggunakan bahasa kiasan untuk merujuk sesuatu.

Teungku Wahab mengulang kata-katanya yang berkenaan dengan GAM berkali-kali. Mungkin agar Tuwae tak salah tafsir:  “Mata air itu jernih. Bersih. Jangan samakan dengan air yang sudah mengalir ke sana-sini!” kata dia.

Juanda Djamal menelpon untuk kesekian kali. Kata dia, mobil sudah berangkat dari Pidie Jaya. Itu artinya, tak lama lagi, mobil yang sejak subuh tadi berangkat dari Bener Meriah, akan sampai ke Pidie, lalu selanjutnya kembali ke Banda Aceh.

Saya dan Tuwae pamit pulang pada Teungku Wahab. []



Daftar Pustaka

Mukthi. MF. 13 Oktober 2010. Satu Negara Dua Kerajaan. Diakses pada 31 Mei 2014 dari http://historia.co.id.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar