Oleh Firdaus Yusuf
ORANG-orang
lalu lalang dengan membawa panci atau wajan. Antrian sepanjang 12 meter di
bawah terik matahari tak putus-putus hingga pukul 18.00 WIB. Mereka memberikan
kupon berwarna hijau atau kupon bewarna putih kepada seorang pria yang ada di
hadapan mereka. Lalu panci atau wajan yang mereka bawa diisi dengan kuah beulangong (kuah belanga). Dan
kupon pun disobek oleh si pria tersebut.
Begitulah
keramaian Kenduri Tamat Daruh atau Kenduri Nuzulul Quran yang diadakan warga
Gampong Neusu Aceh di halaman kantor keuchik
(kantor kepala desa) di Jalan Bakti nomor 13, Gampong (desa) Neusu Aceh,
Kecamatan Baiturrahman, Kota Banda Aceh, Kamis pekan lalu.
Tradisi tersebut dilakukan setelah setiap malam Ramadhan, para pemuda mengadakan
tadarus Alquran di meunasah (surau) atau masjid.
Di
bawah tenda berukuran 8 x 4 meter, itu, 27 belanga atau kuali besar, diletakkan
di atas drum minyak yang telah dipotong dua dan dilas—dibuat menyerupai kompor. Api di bawah kompor-kompor itu menyala dengan
bantuan kayu bakar.
“Isi
tiap-tiap belanga adalah 15 kilogram daging lembu,” kata ketua panitia Kenduri
Tamat Daruh Gampong Neusu Aceh, Zainon Nurdin.
Warga
yang mampu, ujar Zainon, dikenai
sumbangan sebesar Rp 75 ribu per keluarga. Tapi bagi warga yang tidak mampu dan
anak yatim, makanan khas Aceh Besar itu diberikan gratis.
“Ada
dua kupon. Kupon hijau untuk yang dikenai sumbangan. Dan kupon putih untuk
warga yang tidak mampu,” kata pria berumur 54 tahun, itu.
Karena
terdapat 300 kupon putih dan 30 keluarga yang menyumbang, kali ini panitia
dapat menyembelih dua ekor lembu dan tiga ekor kambing.
“300
kupon putih. Dan 30 KK untuk yang menyumbang. Kali ini kami menyembelih dua
ekor lembu dan tiga ekor kambing.”
Junaidi,
juru masak yang menyiapkan santapan kuah belangong menuturkan, bahan-bahan untuk memasak kuah daging lembu dan daging
kambing tersebut, terdiri atas: lengkuas, kunyit, santan, cabai kecil, cabai
merah, cabai kering, daun temurui,
kelapa giling, dan ketumbar. Nangka muda yang telah dipotong-potong, atau bisa
juga pisang, dimasak dalam beulangong
(belanga).
“Tapi ada alat (rempah) yang sudah jadi. Sudah digiling
dengan mesin di kedai. Kami biasanya beli di Pasar Lambaro,” kata dia.
Sesudah
salat asar, sejumlah panitia dan perangkat gampong mulai sibuk menyusun
hidangan di aula gampong. Keuchik (kepala desa) Neusu Aceh, Budian, mengatakan
kenduri ini juga mengundang perwakilan gampong sekitar. “Kita undang perwakilan
15 gampong-gampong tetangga terdekat. Termasuk Muspika Baiturrahman,” katanya.***
Dimuat di Koran Tempo edisi
Senin 21 Juli 2014, halaman 26.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar