Upaya dokumentasi langkah-langkah dalam hidup

Senin, 08 September 2014

Kuah Beulangong dan Kenduri Tamat Daruh


Oleh Firdaus Yusuf


ORANG-orang lalu lalang dengan membawa panci atau wajan. Antrian sepanjang 12 meter di bawah terik matahari tak putus-putus hingga pukul 18.00 WIB. Mereka memberikan kupon berwarna hijau atau kupon bewarna putih kepada seorang pria yang ada di hadapan mereka. Lalu panci atau wajan yang mereka bawa diisi dengan kuah beulangong (kuah belanga). Dan kupon pun disobek oleh si pria tersebut.

Begitulah keramaian Kenduri Tamat Daruh atau Kenduri Nuzulul Quran yang diadakan warga Gampong Neusu Aceh di halaman kantor keuchik (kantor kepala desa) di Jalan Bakti nomor 13, Gampong (desa) Neusu Aceh, Kecamatan Baiturrahman, Kota Banda Aceh, Kamis pekan lalu.

Tradisi tersebut dilakukan setelah setiap malam  Ramadhan, para pemuda mengadakan tadarus Alquran di meunasah (surau) atau masjid. 

Di bawah tenda berukuran 8 x 4 meter, itu, 27 belanga atau kuali besar, diletakkan di atas drum minyak yang telah dipotong dua dan dilas—dibuat menyerupai kompor.  Api di bawah kompor-kompor itu menyala dengan bantuan kayu bakar. 

“Isi tiap-tiap belanga adalah 15 kilogram daging lembu,” kata ketua panitia Kenduri Tamat Daruh Gampong Neusu Aceh, Zainon Nurdin.

Warga yang mampu, ujar Zainon,  dikenai sumbangan sebesar Rp 75 ribu per keluarga. Tapi bagi warga yang tidak mampu dan anak yatim, makanan khas Aceh Besar itu diberikan gratis.

“Ada dua kupon. Kupon hijau untuk yang dikenai sumbangan. Dan kupon putih untuk warga yang tidak mampu,” kata pria berumur 54 tahun, itu. 

Karena terdapat 300 kupon putih dan 30 keluarga yang menyumbang, kali ini panitia dapat menyembelih dua ekor lembu dan tiga ekor kambing.

“300 kupon putih. Dan 30 KK untuk yang menyumbang. Kali ini kami menyembelih dua ekor lembu dan tiga ekor kambing.”

Junaidi, juru masak yang menyiapkan santapan kuah belangong menuturkan, bahan-bahan untuk memasak kuah daging lembu dan daging kambing tersebut, terdiri atas: lengkuas, kunyit, santan, cabai kecil, cabai merah, cabai kering,  daun temurui, kelapa giling, dan ketumbar. Nangka muda yang telah dipotong-potong, atau bisa juga pisang, dimasak dalam beulangong (belanga).

“Tapi ada alat  (rempah) yang sudah jadi. Sudah digiling dengan mesin di kedai. Kami biasanya beli di Pasar Lambaro,” kata dia.

Sesudah salat asar, sejumlah panitia dan perangkat gampong mulai sibuk menyusun hidangan di aula gampong. Keuchik (kepala desa) Neusu Aceh, Budian, mengatakan kenduri ini juga mengundang perwakilan gampong sekitar. “Kita undang perwakilan 15 gampong-gampong tetangga terdekat. Termasuk Muspika Baiturrahman,” katanya.***



Dimuat di Koran Tempo edisi Senin 21 Juli 2014, halaman 26.




Tidak ada komentar:

Posting Komentar