Cerpen Firdaus Yusuf
![]() |
| Ilustrasi: Tauris Mustafa |
DI SEBERANG sebuah anak sungai di Pidie, kau akan menemukan sebuah kampung di mana
pohon-pohon melinjo tumbuh berhimpitan. Jika kau masuk ke kampung itu, kau akan
menjejakkan kaki di atas jalanan berbatu dan berlubang nan sunyi tempat
lutung-lutung duduk, berjalan, atau berlari tanpa ada seorang pun yang
mengganggu.
Bertahun-tahun
silam, sebelum ditutupi tanaman liar setinggi pusar orang dewasa, jalanan
tersebut sering dilalui sepeda motor para pengepul emping melinjo. Apabila kau
berjalan menyusuri lebih jauh ke dalamnya, kau akan bertemu dengan seorang
perempuan dengan bola mata yang seakan tampak putih, yang tengah menunggu roh
suami dan anak-anaknya pulang ke rumah.
Dalam
penantiannya itu, saban hari, dia menyibukkan diri dengan menghempaskan palu
besi yang kepalanya dibalut plastik putih, ke atas melinjo-melinjo yang
sebelumnya telah dikupas kulitnya dan telah digongseng dengan kerikil.
Gerakannya bagai hakim yang mengetuk palu sidang. Hanya saja perempuan itu
mengayun benda itu berkali-kali, di atas sebuah alas dari kayu sawo selebar
lubang sumur. Dia tak pernah peduli pada peluh yang membasahi lehernya.
Perempuan itu
Hasanah, ibu dua anak. Para penggembala sapi menghormatinya, karena dia tak
bisa dibunuh waktu; tak dapatdihancurkan hujan dan kemarau dalam penantiannya
menunggu suami dan anak-anaknya pulang.
Berdasarkan
penuturan para penggembala sapi aku menulis kembali cerita ini. Di depan tempat
Hasanah duduk memipihkan buah melinjo, tampak sebuah pagar bambu berdiri goyah.
Pagar bambu itu melingkari rumahnya yang berdiri di tengah-tengah pepohonan
melinjo. Rumah itu sekilas terlihat tak berpenghuni, karena dinding-dindingnya
ditumbuhi semak-belukar yang merambat liar. Di sisi kiri rumah itu, sebuah
talang air mencuat, dan lumut menggerogoti seluruh bagiannya. Mata Hasanah
tertuju ke arah talang air di rumahnya tersebut. Lubang kecil yang menganga itu
membuatnya tenggelam dalam pikirannya sendiri. Dalam masa-masa menatap talang
air itulah, ia kembali terkenang kepulangan kedua putranya pada suatu sore di
bulan Desember, manakala hujan sering turun dengan deras dan membuat halaman
rumahnya becek.

