Oleh Firdaus Yusuf
DAUGHTER OF
FORTUNE (Putri Keberuntungan), novel karya Isabel Allende, berkisah tentang
tiga bersaudara yang saling menyimpan rahasia. John Sommer, Jeremy Sommer, dan
Rose Sommer. Kedua orang tua mereka sudah meninggal. Mereka pindah ke Chile,
setelah Jeremy Sommer memimpin perusahaan ekspor-impor Inggris di sana.
Rose memiliki affair dengan Karl Bretzner,
penyanyi asal Wina, yang ternyata telah memiliki istri. Hal ini pada awalnya
hanya diketahui Rose dan Jeremy. Sedangkan John memiliki seorang anak haram,
Eliza, hasil cinta liarnya di sekitar pelabuhan dengan perempuan Chile yang tak
lagi diingatnya. Pada awalnya rahasia ini hanya diketahui oleh Rose dan John.
Kelak, semua rahasia itu terkuak.
Pada lapisan lain kita diperkenalkan dengan
Joaquin Andieta, seorang pemuda miskin yang bekerja pada perusahaan Jeremy
Sommer. Pemuda ini telah memikat hati Eliza dan mengubah hidup sang gadis.
Mereka lalu menjalin cinta secara
sembunyi-sembunyi hingga akhirnya Joaquin menanamkan benih pada perempuan muda
itu. Tapi kemudian ia meninggalkan gadis itu setelah ia memutuskan pergi ke
California untuk menambang emas. Saat itu, Jaoquin tidak tahu Eliza hamil; dan
hingga lembaran novel tersebut berakhir Jaoquin juga tak tahu bahwa Eliza
menyusulnya ke California.
Didorong oleh perasaan cintanya yang kuat pada
sang kekasihnya itu, di tengah kondisi hamil, Eliza nekat melakukan perjalanan
sembunyi-sembunyi sebagai penumpang gelap di kapal, dan memulai pertualangan
dari Valparaiso menuju California, Amerika Serikat. Dalam kapal yang dipenuhi
para penambang yang tengah dijangkiti demam emas, Eliza melahirkan tapi bayinya
tak tertolong.
Bagi saya,
Putri Keberuntungan, yang mengambil latar waktu pada pertengahan abad 18
ini, tak hanya berkutat pada petualangan menemukan kembali cinta yang hilang,
tapi ia membicarakan dunia yang lebih luas, yakni mengetengahkan konflik sumber
daya alam yang kerap memicu konflik berdarah; penjualan manusia serta
perbudakan.
California yang dianugerahi limpahan emas menjadi
tempat di mana orang-orang dari seluruh penjuru dunia mencari kebebasan. Namun
di lain pihak, ia adalah medan perang yang mengerikan. Tempat bebas tanpa ada
kepastian hukum.
“Para Argonaut datang dari lautan-lautan jauh:
orang Eropa yang melarikan diri dari ancaman perang, wabah, dan tirani; orang
Amerika yang berambisi tinggi dan lekas marah; orang kulit hitam yang mencari
kebebasan; orang Oregon dan Rusia yang mengenakan pakaian dari kulit rusa,
seperti orang Indian; orang Meksiko, Chile, dan Peru; bandit-bandit Autrallia;
petani Cina kelaparan yang mempertaruhkan kepala mereka karena berani melanggar
perintah Kaisar yang melarang warga Cina keluar dari negara mereka.” (hal.
310).
Di lain pihak, suku Indian yang menepati
California jauh sebelum “demam emas” melanda, menjadi sasaran amuk para
penambang di mana tiap kali ada pembunuhan atau tindakan kriminal yang
dilakukan oleh orang tak dikenal, mereka selalu menjadi sasaran: dibunuh dengan
cara yang keji (tak terkecuali anak-anak dan perempuan). Seiring berjalannya
waktu yang diisi dengan tindakan-tindakan kekerasan brutal dan pembunuhan yang
keji terhadap mereka, orang-orang Indian pun mengasingkan diri. Mereka
kehilangan tanah dan tempat tinggal.
Dalam konteks lain, kasus-kasus kekerasan yang
tak jauh berbeda dengan apa yang dialami oleh orang-orang Indian pun dialami
oleh mereka yang berkulit berwarna: orang-orang kulit putih bertindak sesuka
hati dengan mengedepankan kekerasan ketika gesekan-gesekan sosial terjadi
dengan mereka yang kulit berwarna. Dan hukum tak pernah memihak mereka “yang
berwarna”.
“‘Josefa dihukum mati buka karena dia bersalah,
tapi karena dia orang Meksiko.’…” (hal. 469).
Ihwal perbudakan di California kala itu, kalimat
di bawah ini, sedikit banyaknya bisa menunjukkan dan mewakili hal tersebut:
“Mereka adalah gadis-gadis petani yang dibeli
dengan beberapa koin dan dibawa ke sini dari provinsi-provinsi paling terpencil
di Cina.” (hal. 313).
(Esai ini dimuat di Harian Serambi Indonesia,
edisi Minggu 9 Agustus 2015).
Tidak ada komentar:
Posting Komentar